Nadya memandang wajah pria di hadapannya resah, namun pria itu tetap menyunggingkan senyum seakan perpisahan di antara mereka bukanlah hal penting yang patut di tangisi.
Nadya menarik nafas dalam,sungguh bukan sebuah senyuman yang gadis berlesung pipi itu harapkan dari pria tampan di hadapannya, semakin lama ia menatap mata si pria semakin jelas terlihat bahwa pria itu tak merisaukannya.
“Aku akan merindukanmu.” Ucap Nadya pelan
Pria itu mengangguk mengusap kepala Nadya lembut
“Jangan sedih, kalian hanya pindah ke luar kota bukan ke luar negeri, kita masih bisa bertemu di hari libur it’s okay.” Pria itu tersenyum semakin lebar, niatnya mungkin menenangkan namun justru rasa sesak di dada Nadya semakin menjadi-jadi.
“Janji?” Tanya Nadya.
“Nadya! Ayo nak, nanti jalan keburu macet” teriak wulan ibu Nadya dari luar rumah
“Iya mah.” Timpal Nadya.
Nadya menggigit bibir ciri khasnya saat merasa sedih atau kesal, banyak yang sebenarnya ingin ia sampaikan pada pria dewasa di hadapannya ini, namun fokusnya untuk menahan isak membuat lidahnya kelu, ia yakin air matanya akan tumpah jika ia berbicara lebih banyak lagi. Yang bisa ia lakukan kini hanya mendekat kearah si pria memeluknya erat lantas berlalu tanpa lagi menoleh.
Di dalam mobil tangis Nadya pecah tanpa suara, menunjukkan betapa sakit perasaannya saat ini. Bukan soal ‘pindah rumah’ yang membuat ia begitu sesak, juga bukan karena ia harus meninggalkan kota tempat ia membesar sekaligus teman dan sahabat-sahabatnya, namun ekspresi pria itu, pria yang di keseluruhan hidup ia habiskan bersama.pria yang bagi Nadya adalah rumah ke dua setelah orang tua nya.pria yang pernah berjanji akan selalu ada kapanpun Nadya meminta.alasan bahu Nadya berguncang hebat juga tangis yang membuat dadanya terasa di himpit adalah ekspresi pria itu.
Hanya aku yang merasa kehilangan.. batinnya sesak.
Tanpa pernah Nadya sadari pria itu, pria yang tadinya terus tersenyum dari sejak Nadya berpamitan sampai menaiki mobil kini menghembuskan nafas berat,bahunya yang tegap seketika lunglai ia melepas topeng-andalan-nya,senyumnya hilang sudah.
###
Nadya tahu di hati pria itu-Rian, ia istimewa. Dari ia masih berseragam merah putih sampai kini ia berumur 17 tahun. Orang-orang menganggap perlakuan Rian yang 10 tahun lebih tua dari Nadya adalah wajar, Rian yang selalu memeluk Nadya saat Nadya menangis mengecup pipi si gadis saat merasa gemas. Namun Nadya bukan lagi bocah ingusan yang tak mengerti saat rasa sayang telah bertransformasi menjadi lebih dalam, Nadya sangat mengenal pria itu, tatapannya yang dalam, pelukan hangat, kecupan yang tak pernah berhenti bahkan meski ia telah sedewasa ini, ia yakin ia istimewa.
Beberapa waktu telah berlalu dan seperti janji keduanya,Rian selalu mengunjungi Nadya, terkadang dua sampai tiga kali dalam sebulan lalu mereka menghabiskan hari bersama. Semua baik-baik saja awalnya, pindah rumah dan berjauhan jarak ternyata tak memberi soal dalam kedekatan mereka namun setelah waktu kian berjalan, janji Rian untuk selalu mengunjunginya lama-lama berkurang. Rian selalu memberi alasan setiap kali Nadya menelpon sampai akhirnya Nadya tak lagi bertanya jika Rian tak datang,ia mencoba berbaik sangka saja bahwa Rian memang sedang sibuk. Namun akhirnya Nadya mengerti alasan sebenar Rian yang mulai jarang mengunjunginya, tepatnya sejak hari itu, hari dimana Rian tidak datang ke rumahnya seorang diri.
“Ini Sandra teman kantor ku.” Ucap Rian suatu hari, terlihat bahagia.
Wulan dan Rey orang tua Nadya menyambut Sandra ramah tampak begitu senang. Nadya menatap wanita dewasa di seberang kursinya resah. siapa dia? Batinnya. Wanita itu begitu cantik anggun dan menarik, sejenak Nadya merasa menjadi mahkluk tak kasat mata. Sejak pertemuan bersama Sandra hari itu sikap Rian semakin berubah, pernah Nadya mencoba bertanya saat Rian kembali berkunjung,”kau punya hubungan dengan sandra?” Rian diam tak menjawab. Kembali Nadya bertanya dan jawaban Rian seketika membuat hatinya terasa remuk, ”kau tak perlu tahu.” Rian lalu menjauh, berpamitan pada Wulan yang memberinya tatapan bingung karena tak biasanya Rian pulang secepat itu. Sejak itu Rian tak lagi berkunjung ke rumah.
Nadya menatap kearah luar jendela kamarnya kalut, hari itu hujan turun deras, seakan semesta tahu tentang sakit yang dirasakannya, perlahan Nadya menangis ia sadar sepertinya posisinya kini sudah tergantikan di hati Rian. Lalu Nadya teringat sesuatu, hari disaat Nadya berpamitan untuk pindah keluar kota pada Rian, saat ia meminta Rian berjanji untuk selalu mengunjunginya beberapa bulan yang lalu. Dia ingat, Rian memang tidak pernah berjanji.
###
3 TAHUN KEMUDIAN..
Nadya menangis sesenggukan, di cakarnya gundukan tanah merah yang masih lembab itu terluka.
“Jahat..kak Rian jahat!” jeritnya.
Kawasan pemakaman saat itu sedang sepi, perlahan langit yang sedang mendung menjatuhkan tetesnya deras.
“Dek Nadya, ayo pulang dek.” Sebuah suara menyapa.
Sejenak alis Nadya terpaut, ia berdiri mundur dari naungan payung si perempuan yang tadi mengajaknya pulang.
Aku membencimu!
”Dek jangan hujan hujanan ayo kita pulang.”
Nadya terdiam masih menatap sedih kuburan di depannya yang kini basah oleh hujan. Nadya akhirnya menuruti ajakan Sandra lalu melangkah mengikuti Sandra menuju mobil. Di dalam perjalanan pulang Nadya kembali membuka surat yang baru ia dapatkan beberapa saat lalu.
Teruntuk Nadya Maulyndita
Hai gadisku.. jika kau membaca ini berarti sudah setahun lewat dari hari kematianku
Hei hei..jangan menangis, kau tidak ingin aku mati dengan tidak tenang bukan? maafkan aku yang selama ini menyembunyikan soal penyakitku padamu, aku tidak ingin kau bersedih, dokter sudah men-vonis umurku yang ternyata tinggal sedikit dan aku memilih menghabiskan sisa hidupku untuk membuatmu bisa terbiasa tanpaku.
Nadya aku menyayangimu sayang sejak kau masih berseragam merah putih dengan rambut berkepang dipita sampai akhirnya kau tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik, tidak ada yang bisa mengalahkan silaumu di mataku. Sekarang aku meminta padamu, lupakan aku jalani hidup dengan baik. Aku tahu perasaanmu sayang, tahu sekali.. tapi perasaan itu salah gadisku, ku pinta padamu buanglah, aku yakin akan lebih mudah dengan aku yang kini sudah begitu jauh darimu. Dan tolong jangan membenci Sandra juga Nadya sepupumu, istri dan anakku tidak tahu apa apa tentang kisah kita.
Maafkan aku..
Pamanmu
Arian Satyuda
Nadya meremas surat terakhir Rian untuknya di dadanya, dari kursi depan seorang balita cantik menatapnya tersenyum, Nadya membalas senyum sepupunya sesak, balita itu anak Rian dan Sandra yang memiliki nama sama sepertinya
###
Angin sepoi pantai mengajak rambut panjang gadis berlesung pipi itu menari ke segala arah, hari telah sore namun tidak ada tanda-tanda gadis itu akan beranjak. sejenak memori beberapa tahun kebelakang menyapanya, di tempat yang sama di pantai itu hanya saja saat itu ia tak sendiri
**
“kau mencintainya?” Tanya si gadis sedih
Pria di sampingnya terdiam malah mengambil sesuatu dari balik jaket tebalnya, suatu kertas berwarna cantik lalu memberikannya pada si gadis.
“Kau akan menikah?!!” pekik si gadis
Mata si gadis berkaca, ia tersenyum lalu menatap si pria yang tidak menatapnya sama sekali.
“Semoga bahagia ya… kak Rian.”
**
Nadya gadis itu tersenyum pahit mengingat sepenggal kenangan antara nya dan Rian, kini pria itu telah tiada.
###
“KALIAN AKAN PINDAH?!!” Rian berteriak, mata pria yang selalu terlihat tenang dan dewasa itu merah petanda marah.
“Ini untuk kebaikan Nadya.” ucap Rey datar.
Wulan menghembuskan nafas perlahan, ia tau suaminya lelah memperingati Rian sehingga satu-satunya cara yang terfikirkan olehnya untuk memisahkan Rian dari anak semata wayang mereka adalah dengan pindah ke luar kota, namun Wulan juga merasa kasihan pada Rian, pria itu terlalu menyayangi Nadya, hal baik yang justru harus di pertimbangkan melihat kedekatan keduanya yang memberi efek buruk pada hati anaknya.
”Yan, andai kamu bersikap wajar sebagaimana seorang paman pada keponakannya kami tidak akan pernah memisahkan kalian.” Ucap Wulan.
“AKU SUDAH BERSIKAP WAJAR!” timpal Rian sengit.
“WAJAR KAU BILANG?!” Rey berdiri menunjuk wajah adiknya murka.
“Jika kau bersikap wajar anakku tidak akan jatuh cinta padamu kau mengerti!”
Rian membuang muka lantas menunduk,wajahnya begitu keruh, Rian tahu selama ini ia terlalu memanjakan Nadya, selalu menuruti kemauan gadis itu. Ia juga tahu gadisnya yang kini tumbuh semakin cantik dan beranjak dewasa itu juga memiliki rasa untuknya, ia tahu perasaannya pada keponakannya itu salah, tapi perasaan itu datang begitu saja, siapa yang harus ia salahkan? Cinta?.
“Tolong..” perlahan Rian mendongak tersenyum pahit.
“Izinkan aku untuk tetap mengunjunginya bila kalian telah pindah nanti.”
“Ak..aku mencintainya”.