Esai yang ditulis oleh: Helyatil Jannah (Siswa kelas XB MAS Al-Mujtama’)
Di era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan peluang, peran mahasantri semakin krusial dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus merespons tuntutan zaman. Mahasantri yang merupakan para santri di jenjang perguruan tinggi, yang mana mereka ini tidak hanya bertanggung jawab dalam melestarikan tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, baik social, ekonomi, maupun budaya.
Peran mahasantri tidak sama halnya dengan peran mahasiswa dikarenakan mahasantri yang memiliki kekurangan di bidang teknologi, sedangkan di zaman sekarang mahasiswa/mahasantri masuk kedalam Era Society 5.0, dimana mahasiswa/mahasantri dituntut untuk berpikir kritis, kreatif, serta mampu memberikan inovasi terbaru di tengah masyarakat yang juga dihadapkan dengan kemajuan teknologi digital, dan dengan munculnya Era Society 5.0ini, telah memberi pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Tantangan yang dihadapi juga sangat tidak mudah, karna menghadapi Era Society 5.0membutuhkan persiapan paling matang, mulai dari keterampilan hingga mental.
Lantas bagaimana peran mahasantri untuk menghadapi Era Society 5.0? Era Society 5.0merupakan konsep dimana kehidupan manusia dipermudah dengan adanya teknologi, dan teknologi merupakan bagian dari manusia itu sendiri, dan pada Era Society 5.0ini teknologi seperti Internet of Things ( IOT ), kecerdasan buatan, robotic, dan argumenteq reacity digunakan untuk meningkatkan produktivitas, efiensi, dan kualitas manusia.
Di masa kini, peran mahasantri tidak hanya sebagai pelestari tradisi keislaman tetapi juga diharapkan bisa berkontribusi di dalam bidang teknologi, karna saat ini sudah memasuki Era Society 5.0, yang mana di Era Society 5.0mahasantri dituntut untuk bisa beradaptasi, peka terhadap dunia pendidikan, kreatif, dan inovatif dengan memunculkan berbagai inovasi-inovasi baru untuk menunjang dunia pendidikan agar mampu bersaing secara global, karna mau tidak mau, mahasantri akan tetap dihadapkan dengan yang namanya teknologi, meskipun ketika berdiam di pondok pesantren memang terbatas di bidang teknologi, bahkan ada yang tidak disediakan sama sekali, seperti : pondok pesantren yang berada di daerah pelosok (salaf). Oleh karena itu, mahasantri ini harus sangat memanfaatkan peluang dalam keterbatasan teknologi yang ada dengan cara berpikir kritis, dan kreatif, bukan hanya bergantung pada adanya teknologi. Dan dengan berbekal pendidikan agama yang kuat, mahasantri diharapkan bisa berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan bangsa menghadapi tantangan global.
- Pelestari Tradisi Keislaman di Era Society 5.0
- Salah satu peran utama mahasantri adalah menjaga dan melestarikan tradisi keislaman yang diwariskan oleh para ulama terdahulu. Ditengah arus globalisasi yang membawa perubahan nilai dan budaya, mahasantri berperan sebagai penjaga moral dan etika Islam. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pemegang teguh ajaran agama, tetapi juga menjadi penghubung antara generasi masalalu dan masa kini dalam meneruskan nilai-nilai keagamaan.
- Tradisi keilmuan pesantren seperti kajian kitab kuning, dan dakwah terus dijaga oleh mahasantri tapi dengan pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Mahasantri mampu memadukan nilai-nilai tradisional ini dengan konteks kehidupan di Era Society 5.0, sehingga menghasilkan pola pikir yang dinamis dan adaptif tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim.
- Pemimpin Masa Depan yang Berbasis Nilai-Nilai Islam
- Mahasantri di Era Society 5.0ini memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin di berbagai bidang. Dengan modal pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum, mereka diharapkan bisa memimpin dengan akhlak yang baik, dan luas. Dikarenakan mahasantri sudah terdidik dengan pendidikan pesantren yang menekankan pada kejujuran, amanah, dan tanggung jawab, hal tersebut menjadi landasan yang kuat bagi mahasantri dalam menjalani kepemimpinan, baik dibidang bisnis, pemerintahan, dan organisasi sosial. Mahasantri memiliki daya tahan moral yang bisa membentengi mereka dari godaan kekuasaan dan materi, sehingga mereka dapat memimpin dengan adil dan bijaksana.
- Mendorong Inovasi Berbasis Keilmuan dan Teknologi
- Mahasantri juga dituntut untuk mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat di Era Society 5.0 ini, yang mana berkembangnya teknologi menuntut kita untuk memiliki keterampilan dalam mengikuti kemajuan teknologi. Dengan kemampuan ini, mahasantri akan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja maupun masyarakat. Keterampilan teknologi ini mencakup literasi teknologi, analisis data, inovasi digital, keterampilan komunikasi, keterampilan kewirausahaan, dan lainnya.
- Strategi Mahasantri di Era Society 5.0
- Memahami kemajuan teknologi di Era Society 5.0
- Di Era Society 5.0 mahasantri dituntut untuk beradaptasi, serta harus memiliki pemahaman tren teknologi terbaru, seperti halnya AI yang bisa membantu membuat keputusan yang lebih efektif dan efesien.
- Pendidikan yang berkaitan dengan teknologi
- Demi mencapai Era Society 5.0 mahasantri membutuhkan wawasan yang luas termasuk soal akses informasi. Sedangkan untuk bersaing di era ini membutuhkan pendidikan yang relevan baik formal maupaun nonformal serta menambah wawasan seperti seminar dan workshop.
- Mempersiapkan Mental di dalam Kemajuan Teknologi yang Semakin Canggih
- Seiring berjalannya waktu yang semakin canggih, tentu bisa membuat kita mudah stress oleh karena itu, merpersiapkan mental juga merupakan hal penting untuk menghadapi tekanan yang pasti terjadi pada lingkungan kerja misalnya, kemampuan menjaga emosi, mengatasi stress, serta memperhatikan kondisi fisik
- Peran mahasantri di Era Society 5.0 ini tidak hanya sebagai pelestari tradisi keislaman. Melainkan juga sebagai agen peradaban yang progresif dan inovatif. Dengan dibekali ilmu agama yang kuat dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, mahasantri akan mampu berkontribusi dalam membangun peradaban islam yang relevan. Dengan tantangan zaman yang mulai berkembang, mahasantri bukan hanya menjadi penggerak dalam kehidupan spiritual, akan tetapi, juga dalam dunia intelektual, social, dan teknologi.
Sebagai generasi yang akan memimpin di masa depan, mahasantri juga diharapkan terus menimba ilmu, memperluas wawasan, dan menjadi agen perubahan yang bisa membawa manfaat bagi ummat dan bangsa di tengah arus globalisasi yang mulai berkembang. Dengan semangat keislaman yang kuat mahasantri bisa mempersiapkan diri untuk menyongsong perubahan tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai muslim yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan etika keislaman.